Alice sebagai Penderita Skizofrenia dalam Film Alice in Wonderland

Latar Belakang

Cerita fantastik telah hadir sejak abad ke 17. Genre tersebut menjadi penyegar penikmat karya sastra maupun pertunjukan ketika kepercayaan terhadap hal-hal supranatural semakin melemah. Namun adapula yang mengatakan bahwa genre ini telah berumur tua setua karya sastra itu senditi. Genre fantastik dalam karya sastra maupun film merupakan genre yang banyak diminati hingga saat ini. Genre ini menjadi menarik karena terdapat unsur misterius dan hubungan rumit yang tidak dapat dijelaskan dalam kehidupan nyata (Duncan 2). Dalam genre ini, penulis menciptakan hal yang baru dan berbeda daripada menggambarkan ulang peristiwa maupun tokoh yang ada di dunia nyata. Didalam film fantastik akan sering dijumpai tokoh-tokoh yang tidak ada dalam dunia nyata, misalnya binatang yang dapat berbicara. Tidak hanya itu, setting pada cerita fantastik juga biasanya unik dan berbeda, contohnya di sebuah taman yang terbuat dari kue. Keanehan-keanehan tersebut merupakan hal yang menarik karena mengajak para pembaca membayangkan sebuah tempat atau tokoh yang tidak ada dalam dunia nyata.

Barthes dalam Duncan menjelaskan bahwa cerita fantastik membawa pembaca ke proses kreatif dan proses pembongkaran asumsi antara fiksi dan realitas (2). Dapat dijelaskan bahwa pembaca akan mengalami proses telaah terhadap cerita. Pembaca akan memilah antara unsur-unsur yang mungkin terjadi di dunia nyata dengan unsur yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Kerumitan pemahaman dalam cerita fantastik membuat pembaca tertarik untuk memahaminya. Salah satu karya fantastik yang hingga saat ini masih terus dibaca ialah Alice’s Adventures in Wonderland oleh Lewis Carroll. Karya sastra ini terbit pada 26 November 1865. Novel ini merupakan salah satu novel klasik bergenre fantastik. Hingga saat ini, cerita tersebut masih dinikmati oleh banyak orang. Terbukti dengan novelnya yang telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Tidak hanya itu, karya tersebut juga telah di adaptasi menjadi sebuah film yang berjudul Alice in Wonderland.

Film tersebut merupakan adaptasi dari dua karya Lewis Carroll, yaitu Alice’s Adventure in Wonderland dan Through the Looking Glass. Walaupun merupakan adaptasi dari dua novel sekaligus, film ini tetap mendapat banyak apresiasi. Hal ini terbukti dengan teraupnya lebih dari $1.02 milliar diseluruh dunia sejak film tersebut pertama kali di rilis, yaitu pada tahun 2010. Tidak hanya itu, film ini memenangkan penghargaan Best Art Direction dan Best Costume Design serta menjadi nominasi Best Visual Effects pada acara Academy Awards ke 83. Selain itu pada 2014, film ini menjadi film ke enam belas yang paling sukses sepanjang masa atas penjualan tiket hingga menghasilkan lebih dari $1 miliar. Hal-hal yang telah diraih tersebut tersebut menandakan bahwa film Alice in Wonderland telah berhasil menceritakan kembali atau mengadaptasi novel sekuel karya Lewis Carroll.

Film ini menceritakan tentang perjalanan gadis bernama Alice yang selama hidupnya selalu mengalami mimpi yang sama, yaitu mimpi mengenai wonderland atau dunia ajaib. Mimpinya menjadi nyata setelah Alice terjatuh kedalam lubang saat ia mengikuti seekor kelinci yang mengenakan jas dan membawa jam yang terus berdetik. Saat terbangun dari jatuhnya ia telah berada di dunia ajaib. Disana ia bertemu dengan banyak tokoh yang muncul dalam mimpinya. Ia juga bertemu dengan ratu merah yang merupakan tokoh antagonis dalam film tersebut. Dalam film, Alice diceritakan berhasil mengalahkan ratu merah setelah membunuh seekor naga bernama Jabberwocky.

Dari ringkasan singat film Alice in Wonderland diatas, dapat dilihat bahwa film tersebut merupakan salah satu film yang bergenre fantastik. Literatur fantastik sendiri digolongkan menjadi lima macam; marvellous, fantastik marvellous, fantastik murni, fantastik uncanny, dan uncanny. Lima jenis cerita fantastik tersebut memiliki cirinya masing-masing. Untuk memahami jenis fantistik mana yang diusung oleh film, makalah ini akan mengetahuinya dengan menganalisis urutan cerita. Urutan cerita dalam film tersebut menarik. Terdapat ketidakjelasan antara unsur nyata dan unsur tidak nyata didalamnya, sehingga dapat munculkan berbagai macam intepretasi. Ketidakjelasan batasan antara nyata dan tidak nyata dapat memunculkan sebuah intepretasi terhadap karakter Alice.

Buramnya batasan antara nyata dan tidak nyata dalam film ini tergambarkan dalam akhir film yaitu saat Alice berdiri di ujung kapal sambil berbicara kepada seekor kupu-kupu. Tindakan Alice dengan berbicara kepada kupu-kupu menggambarkan bahwa kondisi kejiwaannya tidak seimbang. Oleh karena itu, setelah mengungkap jenis cerita fantastik yang ada dalam film tersebut, makalah ini akan menganalisis kondisi kejiwaan Alice yang tergambarkan melalui ketidakjelasan batasan antara nyata dan tidak nyata dalam film.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana urutan cerita dan durasi dalam film Alice in Wonderland mengkategorikan dirinya sebagai fantastik-uncanny?
  2. Bagaimana model cerita fantastik dalam film Alice in Wonderland mendukung Alice sebagai penderita skizofrenia?

Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui urutan cerita dan durasi dalam film Alice in Wonderland mengkategorikan dirinya sebagai fantastik-uncanny.
  2. Untuk mengetahui bagaimana model cerita fantastik dalam film Alice in Wonderland mendukung Alice sebagi penderita skizofrenia.

Metode Penelitian

Makalah ini merupakan penelitian kualitatif. Langkah pertama yang akan dilakukan yaitu dengan melakukan close reading terhadap objek dalam makalah ini yaitu film Alice in Wonderland yang merupakan sumber data utama. Tahap close reading dilakukan agar dapat mengetahui urutan cerita dalam film tersebut. Tahap ini dapat disebut juga dengan analisis struktural, dimana struktur cerita dalam film diperhatikan sehingga dapat menggolongkan film Alice in Wonderland kedalam salah satu jenis cerita fantastik yang dijelaskan oleh Todorov. Dalam melakukan analisi struktural, peneliti dibantu dengan konsep urutan atau order yang dijelaskan oleh Gennette.

Langkah selanjutnya yaitu dengan menganalisis kondisi kejiwaan tokoh Alice. Kejiwaan tokoh Alice dapat dipahami dengan menganalisis urutan cerita dan durasi pada film. Dengan memahami urutan cerita dan durasi dalam film, peneliti mampu mengetahui apakah film Alice in Wonderland murni menceritakan tentang Alice yang sedang berpetualang di negeri ajaib ataukah menceritakan kondisi kejiwaan Alice yang tidak normal. Dalam menentukan kondisi kejiwaan Alice, peneliti akan didukung oleh buku Skizofrenia.

Landasan Teori

Penelitian ini menggunakan dua teori yaitu naratologi dan psikologi sastra. Naratologi digunakan untuk membedah urutan cerita pada film Alice in Wonderland sehingga dapat mengetahui film tersebut termasuk dalam jenis cerita fantastik yang diusung oleh Todorov. Setelah mengetahui jenis cerita fantastik dari film tersebut, penelitian ini kemudian memanfaatkan teori psikologi sastra untuk memahami kondisi kejiwaan Alice. Dengan menggunakan dua teori tersebut, penelitian ini dapat menjelaskan ketidakjelasan batasan antara nyata dan tidak nyata dalam film Alice in Wonderland.

  • Naratologi

Penggunaan unsur naratif dalam film maupun novel merupakan tahap yang pasti dilakukan oleh peneliti dalam meneliti sebuah karya. Dalam makalah ini, teori naratologi miliki Gerard Genette akan digunakan untuk membedah urutan cerita atau order dalam film Alice in Wonderland. Genette menemukan lima aspek dalam analisis naratif yang dapat diperhatikan saat ingin membedah sebuah karya berdasarkan strukturnya. Aspek-aspek tersebut antara lain; order, duration, frequency, mood, dan voice. Namun, makalah ini tidak akan menggunakan lima aspek diatas. Penelitian ini menggunakan satu aspek naratif yang diusung oleh genette yaitu order (urutan cerita). Order dipilih karena dapat membantu peneliti untuk mengungkap batasan antara nyata dan tidak nyata dalam film Alice in Wonderland, sehingga peneliti dapat mengetahui kondisi kejiwaan tokoh Alice.

  • Urutan (Order)

Urutan (order) adalah rangkaian peristiwa satu dengan perstiwa yang lain sehingga membentuk narasi (Eriyanto 30). Terdapat dua macam urutan, yang pertama yaitu urutan cerita yang kedua adalah urutan plot. Urutan cerita atau story order bersifat kronologis. Cerita adalah peristiwa sesungguhnya, yang sifatnya pasti kronologis (31).  Yang kedua adalah urutan plot atau plot order. Dalam urutan plot sifatnya bisa kronologis maupun tidak kronologis. Contohnya dalam novel Carrie karya Stephen King. Novel tersebut menceritakan seorang tokoh perempuan bernama Carrie yang memiliki kemampuan menggerakkan benda disekelilingnya. Dalam novel, peristiwa dimana Carrie memporak porandakan kota tidak diceritakan secara kronologis. Dalam hal ini hal yang tidak kronologis ialah plot. Plot tidak harus bersifat kronologi ketika menceritakan sebuah cerita. Novel Carrie dimulai dengan sebuah berita pada koran yang memuat bahwa terjadi sebuah peristiwa hujan batu, dimana sesungguhnya peristiwa tersebut diakibatkan oleh Carrie yang merupakan bagian akhir daripada novel tersebut. Bisa dilihat bahwa plot Cariie tidaklah kronologis. Namun, berbeda dengan urutan ceritaharus bersifat kronologi. Ketika mengindentifikasi urutan cerita, maka seseorang harus mengurutkan peristiwa yang terjadi di awal cerita hingga akhir cerita walaupun letaknya berlompatan.

  • Durasi

Durasi adalah waktu dari suatu peristiwa. Sama seperti urutan atau order, durasi terbagi menjadi dua yaitu; durasi cerita,durasi plot, dan durasi teks. Durasi cerita merujuk pada keseluruhan waktu dari suatu peristiwa dari awal hingga akhir. Durasi cerita ini bisa bulan, tahun, bahkan ratusan tahun, tergantung pada peristiwa (Eriyanto 25). Sedangkan durasi plot ialah cenderung lebih pendek karena pembuat cerita kerap mengambil bagian waktu tertentu dari sebuah cerita untuk ditonjolkan kepada khalayak. Jenis yang ketiga adalah durasi teks. Durasi ini merujuk pada waktu dari suatu teks. Misalnya, sebuah film berdurasi dua jam, atau sebuah berita televisi mengambil durasi 15 menit, dan seterusnya (25).

  • Cerita Fantastik Uncanny

Cerita fantastik merupakan salah satu genre dalam literatur. Seiring berkembangnya zaman, genre ini tidak hanya berhenti pada karya sastra namun telah berkembang menjadi salah satu genre film. Terjadi perdebatan terkait dengan definisi fantastik. Namun Todorov menjelaskan bahwa fantastik adalah kebimbangan yang dirasakan oleh seorang manusia yang hanya mengenal hukum-hukum alami ketika menghadapi suatu peristiwa yang kelihatan supranatural. Kebimbangan yang dimaksud adalah kebimbangan pembaca dalam membedakan unsur nyata dan tidak nyata yang ada dalam sebuah teks. Cerita fantastik terbagi menjadi 4 macam. Yaitu marvellous, fantastik marvellous, fantastik, fantastik uncanny, dan uncanny. Fantastik marvellous merupakan fantasik yang murni merupakan peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara logis. Sedangkan fantastik uncannya adalah fantastik yang pada akhir ceritanya dapat dijelaskan secara logis.

  • Skizofrenia

Skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan mental. Gangguan mental ini dapat disebut juga dengan psikosis. Pasien skizofrenia biasanya tidak dapat membedakan antara kenyataan dan hayalan. Hayalan dan delusi merupakan salah satu gejala yang dialami oleh pasien. Hayalan merupakan persepsi sensorik yang salah dimana tidak terdapat stimulus sensorik yang berkaitan dengannya (Arif 18). Dapat dikatakan halusinasi ialah keadaan ketika seseorang melihat atau mendengar sesuatu yang pada kenyataannya tidak ada. Sedangkan delusi ialah suatu keyakinan yang salah yang tidak dapat dijelaskan oleh latar belakang budaya pasien ataupun pendidikannya; pasien tidak dapat diyakinkan oleh orang lain bahwa keyakinannya salah, meskipun banyak bukti kuat yang dapat diajukan untuk membantah keyakinan pasien tersebut (Arif 17). Contoh delusi ialah ketika seseorang meyakini dirinya sebagai seorang artis terkenal namun sebenarnya bukan atau ketika pasien merasa sedang diburu oleh orang yang ingin mencelakainya namun sesungguhnya tidak.

Pasien skizofrenia secara fisik tidak memiliki perbedaan dengan orang normal. Hal tersebut dikarenakan yang sakit pada pasien ialah mentalnya. Pandangan populer terhadap penyebab gangguan mental ini ialah faktor genetik. Kendler dan Schuksinger dalam Arif menjelaskan bahwa studi genetik telah mendemonstrasikan bahwa skizofrenia ialah gangguan mental dengan dasar biologis yang kuat (5). Meskipun faktor biologis telah diketahui sebagai penyebab pasti, namun peranan faktor lainnya seperti psikologis dan lingkungan juga turut andil dalam terjadinya skizofrenia pada seseorang. Oleh karena itu Robbins dalam Arif mengatakan bahwa tampaknya lebih tepat bila mengatakan skizofrenia sebagai penyakit yang meliputi predisposisi genetik, yang diaktifkan oleh faktor-faktor intrapsikis dan interpersonal (5). Maka, menganalisis lingkungan dimana pasien tinggal serta pengalaman-pengalaman yang pernah ia alami dapat menjelaskan penyebab mengapa ia mengalami skizofrenia.

Analisis

Dalam bagian analisis akan dibahas isu terkait dengan kondisi kejiwaan tokoh Alice yang tergambarkan melalui ketidakjelasan pada batasan antara nyata dan tidak nyata dalam film Alice in Wonderland. Terdapat empat tahap dalam menganalisis isu tersebut. Tahap pertama dengan menguraikan urutan cerita. Selanjutnya dilanjutkan dengan menganalisis urutan plot dalam film tersebut. Hasil penguraian terhadap urutan cerita akan dibandingkan dengan urutan plot untuk mengetahui batasan antara nyata dan tidak nyata. Tahap terakhir yaitu dengan menganalisis kondisi kejiwaan dengan memperhatikan sikap tokoh Alice terhadap peristiwa yang terjadi padanya.

  • Urutan Cerita dalam Film Alice in Wonderland

            Sub bab ini akan membahas urutan cerita dalam film Alice in Wonderland. Urutan cerita dalam film tersebut ialah sebagai berikut:

1 Alice kecil sering terbangun di tengah malam karena mimpi aneh.
2 Ayah Alice yang merupakan seorang workaholic selalu menenangkan Alice setiap kali ia terbangun karena mimpi buruk.
3 Ayah Alice sering menyebutkan 6 hal mustahil di setiap pagi.
4 Ayah Alice meninggal dunia.
5 Alice harus menikah dengan rekan bisnis Ayah Alice dengan tujuan kerjasama dalam bidang pekerjaan.
6 Alice dipaksa ibunya datang ke pesta pertunangan.
7 Alice datang dan berdansa dengan calon tunangannya.
8 Alice diberitahu temannya bahwa ia akan dilamar dalam pesta tersebut.
9 Alice berjalan-jalan dengan calon ibu mertua.
10 Alice melihat seekor kelinci berlari di semak-semak, dan mengikutinya.
11 Alice melihat suami kakaknya sedang berselingkuh dengan wanita lain.
12 Alice dipanggil ke podium untuk dilamar oleh calon tunangannya.
13 Alice melihat seekor kelinci seolah memanggilnya.
14 Alice mengikuti kelinci dan meninggalkan acara lamaran.
15 Alice terperosok kedalam lubang.
16 Alice terbangun di sebuah ruangan dengan banyak pintu.
17 Alice memakan kue sehingga tubuhnya kecil dan berhasil masuk ke dunia ajaib.
18 Alice bertemu dengan makhluk-makhluk aneh serta tumbuhan dan hewan yang dapat berbicara.
19 Alice dikejar oleh pasukan tentara ratu merah.
20 Tangan Alice terluka oleh hewan ajaib mirip dengan seekor anjing.
21 Alice bertemu dan berbicara dengan seekor ulat biru yang mengatakan bahwa ia harus perang melawan Jaberwocky.
22 Alice pergi berjalan seorang diri, dan bertemu dengan seekor kucing yang tersenyum lebar dan dapat mengilang.
23 Alice diantar oleh kucing ke sebuah jamuan teh gila oleh hatter, tikus, dan kelinci yang gila.
24 Alice diselamatkan oleh hatter saat tentara ratu merah mencarinya.
25 Alice berlari dengan hatter karena dikejar oleh tentara ratu merah.
26 Hatter ditangkap oleh pasukan tentara ratu merah.
27 Alice pergi diantar anjing menuju istana ratu merah.
28 Alice tiba dan tinggal dengan ratu merah sebagai Um.
29 Alice menyelamatkan hatter.
30 Alice berhasil kabur dari istana dan pergi istana ratu putih.
31 Alice kembali ke ukuran tubuhnya yang normal.
32 Alice berbicara kembali dengan ulat biru yang terlihat bijaksana.
33 Alice bersiap bertempur melawan Jaberwocky.
34 Alice mengalahkan Jaberwocky.
35 Alice meminum ramuan untuk kembali ke dunia nyata.
36 Alice keluar dari lubang tempat ia jatuh.
37 Alice menemui calon tunangannya dan membatalkan pertunangan.
38 Alice menjalin hubungan bisnis dengan ayah calon tunangannya.
39 Alice berada di atas kapal sambil berbicara dengan kupu-kupu berwarna biru.

Dari urutan cerita diatas, dapat dilihat terdapat dua dunia yang ada dalam film tersebut. Dunia yang pertama ialah dunia nyata dimana Alice mengalami mimpi-mimpi tentang dunia ajaib. Dunia kedua ialah dunia ajaib dimana ia berpetualang untuk mengalahkan Jaberwocky. Kedua dunia tersebut tidak  benar-benar terpisah. Dalam film tersebut diceritakan bahwa dunia nyata dan dunia ajaib berhubungan dengan satu sama lain. Hal ini dibuktikan ketika Alice melihat kelinci berompi yang menuntunnya menuju lubang sambil membawa sebuah jam ditangannya.

Urutan cerita diatas tidak jauh berbeda dengan urutan plot dalam film tersebut. Dalam plot, cerita dimulai dengan Alice yang masih kecil. Kemudian disambung dengan cerita ketika Alice dewasa dan sedang berangkat menuju pesta lamarannya. Urutan cerita dan urutan plot dalam film Alice in Wonderland menjelaskan bahwa terdapat dua dunia yaitu dunia nyata dan dunia ajaib. Keberadaan dunia ajaib dan peristiwa-peristiwa didalamnya menggolongkan film ini kedalam cerita fantastik. Namun terdapat kebimbangan tentang adanya dunia ajaib yang telah Alice kunjungi. Apakah dunia tersebut benar ada ataukah hanya bagian dari mimpi Alice. Analisis tentang hal tersebut akan dibahas dalam sub bab selanjutnya.

  • Durasi Cerita dalam Film Alice in Wonderland

Aspek struktur yang selanjutnya akan dibahas dalam makalah ini adalah durasi cerita. Aspek ini dibahas untuk menjawab apakah dunia ajaib yang dikunjungi oleh Alice benar ada atau hanya ada dalam mimpinya saja. Untuk mengetahui hal tersebut, makalah ini akan melihat perbandingan antara dunia nyata dan dunia ajaib dalam film Alice in Wonderland. Berikut adalah gambar pembagian durasi antara dunia nyata dan ajaib dalam film tersebut:

capture

Pada gambar diatas, scene yang menampilkan Alice sedang berada dalam dunia ajaib memiliki durasi yang lebih lama dibandingkan dengan scene yang menampilkan Alice sedang dalam dunia nyata. Total durasi ketika alice sedang berada dalam dunia nyata ialah 34 menit dengan 15 menit pada awal film dan 19 pada akhir film. Scene dalam dunia nyata terbagi menjadi dua yaitu ketika Alice masih kecil dan Alice saat remaja sedang dalam sebuah pesta lamarannya. Peralihan dari dunia nyata menuju dunia ajaib terjadi ketika Alice lari dari podium tempat calon tunangannya melamar dirinya menuju sebuah lubang yang membawanya ke dunia ajaib. Peristiwa Alice dalam dunia ajaib diceritakan dengan durasi 75 menit dalam film.

Peristiwa dimana Alice melihat kelinci berompi yang seakan sedang dikejar waktu ketika sedan berjalan di taman bersama calon ibu mertuanya merupakan titik awal dunia tidak nyata hadir dalam hidup Alice. Pada menit ke 74, Alice kembali kedunia nyata. Kembalinya Alice ke dunia nyata digambarkan dengan Alice yang sedang memanjat keluar dari lubang kelinci.

            Ketika Alice berpetualang di dunia ajaib, peristiwa tersebut mengambil durasi yang paling lama dibandingkan dengan durasi ketika Alice dalam dunia nyata. Namun, keanehan terjadi ketika Alice keluar dari lubang kelinci. Keanehan tersebut mewujud pada waktu dalam dunia nyata yang tidak terpengaruh oleh dunia ajaib yang dikunjungi oleh Alice. Jika ditelaah secara logika, seharusnya pesta lamaran telah selesai dan keluarga serta kerabat Alice digambarkan sedang mencarinya. Namun, hal berbeda justru terjadi, ketika Alice keluar dari lubang kelinci, ia kembali ke pesta seakan ia baru pergi sebentar. Hal ini mulai menimbulkan keraguan terhadap eksistensi dunia ajaib yang baru saja dikunjungi oleh Alice. Keraguan terhadap eksistensi dunia ajaib ini selanjutnya akan dibahas melalui jenis cerita fantastik yang diusung oleh film Alice in Wonderland.

  • Alice in Wonderland sebagai Film Fantastik Uncanny

Ketika membaca karya fantastik, seorang pembaca akan mengalami kebimbangan selama proses pembacaan. Kebimbangan tersebut terjadi karena dalam karya bergenre fantastik pembaca akan mengalami proses pemilihan antara yang nyata dan tidak nyata. Tidak hanya itu, pembaca juga akan dihadapkan dalam kebimbangan ketika aspek tidak realistis digabungkan dengan aspek realistis. Karena banyak sekali jenis cerita fantastik, kemudian Todorov membagi cerita fantastik menjadi lima macam yaitu marvellous, fantastik marvellous, fantastik murni, fantastik uncanny, dan uncanny.

Berdasarkan urutan cerita pada film Alice in Wonderland, dapat disimpulkan bahwa film ini termasuk dalam jenis fantastik uncanny. Film ini dapat dikatakan termasuk dalam jenis fantastik ucanny karena pada awal cerita terjadi kebimbangan. Kebimbangan tersebut dapat dilihat ketika Alice melihat kelinci mengenakan rompi sambil membawa jam sedang berlari di semak-semak. Kebimbangan tersebut diwujudkan dengan memastika hal yang baru saja ia lihat ialah benar. Alice bertanya beberapa kali kepada calon ibu mertuanya mengenai kelinci aneh yang baru saja ia lihat. Berikut adalah kutipan pembicaraan antara Alice dan calon ibu mertuanya ketika ia melihat seekor kelinci mengenakan rompi.

Alice                : Did you see that?

Lady Ascot     : See what?

Alice                : It was a rabbit, I think.

Lady Ascot     : Nasty things. I do enjoy setting, the dogs on them. If you serve Hamish the wrong foods, he could get a blockage.

Alice                : Did you see it that time?

Lady Ascot     : See what?

Alice                : The rabbit.

Lady Ascot     : Don’t shout. Now, pay attention. Hamish said you were easily distracted. What was I saying?

Alice               : Hamish has a blockage. I couldn’t be more interested, but you’ll have to excuse me.

Alice                : Aunt Imogene. I think I’m going mad. I keep seeing a rabbit in a waistcoat.

Aunt Imogene : I can’t be bothered with your fancy rabbit now. I’m waiting for my fiancé.

Alice                : You have a fiancé?

Aunt Imogene : Hmm.

Alice                : There! Did you see it?

Pada percakapan yang terjadi antara Alice, Lady Ascot dan aunt Imogene dapat dilihat bahwa Alice mengalami kebimbangan atas hal aneh yang baru saja ia lihat. Merespon hal tersebut, Alie bereaksi dengan bertanya kepada orang yang ada di dekatnya. Kebimbangan tidak hanya terjadi sekali pada film. Alice juga masih mengalami kebimbangan ketika ia baru saja tiba di dunia ajaib. Berikut adalah kutipannya:

Alice               : Wait, this is my dream. I’m going to wake up now and you’ll all disappear. That’s odd. Pinching usually does the trick.

Dormouse        : I could stick you, if that would help.

Percakapan antara Alice dan Dormouse terjadi ketika Alice sedang membuka gulungan ramalan yang menyampaikan bahwa dirinya ditakdirkan untuk membunuh Jabberwocky. Alice menolak ramalan tersebut dan mengatakan bahwa dirinya saat itu sedang bermimpi dan akan segera terbangun segera saat ia mencubit dirinya sendiri. Namun saat ia mencubit lengannya, Alice masih berada dalam negeri ajaib. Dalam scene tersebut terlihat bahwa Alice mengalami kebimbangan terhadap dunia ajaib. Ia tidak percaya dengan sepenuhnya bahwa ia benar-benar berada dalam negeri ajaib.

Ciri selanjutnya dalam cerita fantastik uncanny adalah cerita yang merupakan perpaduan antara yang logis dan ajaib. Ciri tersebut ada dalam film Alice in Wonderland. Letak logis dalam film ini ialah ketika Alice berada di dunia nyata, melakukan aktifitas umum yang biasa dilakukan oleh manusia. Contohnya ketika ia berada di kereta kuda yang sedang mengantarnya ke sebuah pesta. Berikut adalah gambar potongan scene yang menunjukkan Alice berada dalam dunia nyata/logis:

capture-1

Gambar dalam salah satu potongan scene tersebut menunjukkan bahwa film tersebut menampilkan dunia logis dimana dunia logis yang dimiliki oleh Alice adalah sebagai seorang anak perempuan yang segera akan dinikahkan.

Sedangkan aspek ajaib dapat dilihat ketika Alice berada di dunia ajaib. Dalam dunia tersebut baik tumbuhan maupun hewan dapat berbicara. Tidak hanya itu, disana juga muncul makhluk-makhluk ajaib seperti tweedledee and tweedledum. Berikut adalah gambar dari potongan scene yang menampilkan dunia ajaib dalam film Alice in Wonderland:

capture-2

Makhluk-makhluk yang ada pada gambar dari potongan scene diatas memperlihatkan pemandangan yang tidak logis. Hal tersebut antara lain, tokoh tweedledee dan tweedledum, kelinci yang dapat berbicara dan mengenakan sebuah rompi, bungan yang dapat berbicara dan memiliki wajah, juga seekor tikus yang mengenakan baju dan dapat berbicara. Hal-hal tersebut merupakan hal yag tidak bisa diproses dengan logika. Oleh karena itu, film Alice in Wonderland merupakan tergolong dalam cerita fantastik uncanny karena didalamnya terdapat percampuran antara unsur logis dan ajaib.

Ciri selanjutnya yang mendukung film ini tergolong ke dalam cerita fantastik uncannya adalah akhir cerita yang dapat dijelaskan secara logis. Hal yang sama juga terjadi dalam cerita film Alice in Wonderland. Pada bagian awal film diceritakan bahwa Alice sering mengalami mimpi yang aneh dan terus berulang. Mimpinya tidak berubah dan terus datang hingga ia beranjak remaja. Mimpi Alice yang digambarkan dalam film ternyata tidak jauh berbeda dengan petualangan Alice di negeri ajaib. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa petualangan Alice di negeri ajaib merupakan bagian dari mimpinya saja. Hal ini di dukung dengan perbedaan waktu antara dunia nyata dan dunia ajaib. Sesuai dengan analisis durasi film, bisa dilihat bahwa petualangan Alice di negeri ajaib memiliki durasi penceritaan terpanjang jika dibandingkan dengan penceritaan saat dirinya berada di dunia nyata. Namun keanehan terjadi, yaitu ketika Alice telah menghabiskan banyak waktu di dunia ajaib saat ia kembali ke dunia nyata,waktu tidak banyak berubah. Pesta pertunangan masih berlangsung, dan semua orang masih menunggu jawaban Alice. Berdasarkan durasi dan masa lalu Alice, maka dapat disimpulkan bahwa dunia ajaib tempat Alice berpetualang hanyalah bagian dari mimpinya saja.

Selain itu, Alice merupakan tokoh yang percaya dengan hal-hal mustahil, contohnya terhadap enam hal mustahil yang dipercayai oleh ayahnya. Hal tersebut membawa peneliti untuk menyimpulkan bahwa Alice mengalami gangguan kejiwaan dimana dalam film digambarkan melalui pembicaraan dirinya mengenaik hal-hal yang tidak mungkin. Pembahasan kejiwaan Alice akan dibahas dalam sub bab selanjutnya.

  • Alice sebagai Penderita Skizofrenia

                Dari analisis film Alice in Wonderland sebagai cerita fantastik ucanny, ditemukan bahwa akhir cerita pada film tersebut dapat dijelaskan dengan logis. Petualangan Alice di dunia ajaib hanyalah mimpinya saja. Dari analisis tersebut kemudian dapat dipahami bahwa Alice tidak dapat membedakan antara hayalan, mimpi, dan dunia nyata. Ketidakmampuan Alice membedakan antara hayalan dan dunia nyata dapat dilihat ketika ia sedang berbicara dengan calon tunangannya. Berikut adalah kutipan percakapan:

Alice                           : I had a sudden vision of all the ladies in trousers and the men wearing dresses.

Hamish                       : I think you’ll do best to keep your visions to yourself. When in doubt, remain silent. Pardon us, sir. Miss Kingsleigh is distracted today. Where’s your head?

Alice                            : I was wondering what it would be like to fly.

Hamish                       : Why would you spend your time thinking about such an impossible thing?

Alice                           : Why wouldn’t I? My father said he sometimes believed in six impossible things before breakfast.

Percakapan tersebut terjadi saat Alice sedang berdansa dengan Hamish, calon tunangannya. Namun bukannya fokus pada hubungannya, Alice mulai berbicara mengenai hal-hal yang tidak logis. Seperti membayangkan jika para wanita pada pesta sedang mengenakan celana dan laki-laki mengenakan gaun. Selain itu, Alice juga membayangkan bagaimana rasanya bisa terbang. Percapakan yang berisis mengenai hayalan-hayalan Alice merupakan salah satu gejala skizofrenia yaitu pembicaraan kacau.

Pada bab teori telah dijelaskan bahwa skizofrenia merupakan gangguan mental dimana penderita tidak dapat mengenali atau tidak memiliki kontak dengan realitas. Gejala pembicaraan kacau yang ditunjukkan oleh Alice merupakan salah satu tanda dalam mendiagnostik pasien skizofrenia. Tidak hanya berupa pembicaraan yang kacau, Alice juga mengalami halusinasi. Halusinasi Alice dapat dilihat ketika ia berusaha meyakinkan orang disekitarnya saat ia melihat seekor kelinci yang memakai pakaian. Pada film, hanya Alice lah yang melihat kelinci tersebut, jika di runtut secara logis, posisi Alice sebagai satu-satunya orang yang melihat kelinci berompi merupakan bagian daripada imajinasinya. Halusinasi tersebut merupakan gejala dari skizofrenia.

Alice sebagai penderita skizofrenia semakin diperkuat ketika ia keluar dari lubang kelinci tempat ia terjatuh. Dalam analisis durasi film, bisa dilihat bahwa waktu dalam dunia nyata sama sekali tidak terpengaruh dengan waktu dunia ajaib. Dapat dikatakan bahwa dunia ajaib yang dianggap nyata oleh Alice merupakan bagian dari mimpinya saja. Hal tersebut terkait dengan kondisi Alice yang selalu memimpikan hal yang sama sejak ia kecil. Oleh karena itu, petualangan Alice di negeri ajaib dapat dikatakan hanyalah bagian dari mimpinya saja. Namun ketidakmampuannya membedakan antara dunia mimpi dan dunia nyata membuatnya berhalusinasi. Halusinasi ini ditunjukkan dalam akhir cerita ketika ia berbicara kepada kupu-kupu berwarna biru yang dianggapnya merupakan makhluk negeri ajaib yang datang ke dunia nyata.

Berdasarkan analisis diatas, penulis menyimpulkan bahwa Alice sesungguhnya tidak benar-benat berpetualang di negeri ajaib. Ia hanya terjatuh ke sebuah lubang dan bermimpi tentang mimpi yang sama seperti ia saat kecil.

Kesimpulan

Makalah ini menyimpulkan bahwa film Alice in Wonderland yang bergenre fantastik tidak sepenuhnya membahas mengenai hal-hal yang tidak logis. Jika dipahami lebih jauh, film ini merupakan sebuah penggambaran terhadap kondisi kejiwaan seorang tokoh. Dalam konteks ini yaitu Alice sebagai penderita skizofrenia yang tidak mampu membedakan antara hayalan dan dunia nyata. Persitiwa pada film Alice in Wonderland yang awalnya merupakan fantastik atau peristiwa yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata pada akhir cerita dapat dijelaskan secara logis menjadikannya tergolong kedalam cerita fantastik uncanny.

Arif, Iman Setiadi. Skizofrenia: Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Bandung: Refika Aditama, 2006. Duncan, Chyntia. Unraveling the Real: The Fantastic in Spanish-American Ficciones. Philadelphia: Temple University Press, 2010. Eriyanto. Analisis Naratif: Dasar-dasar dan Penerapannya dalam Analisis Teks Berita Media. Jakarta: Kencana , 2013.

Share This