Introduction

Dalam artikel ini, Anda akan dikenalkan secara singkat kepada definisi cyberghetto dan definisi cybertopia.

Awal kehadiran teknologi dan internet telah diprediksikan mampu merubah dan meningkatkan perekonomian pada negara-negara yang memanfaatkannya. Hal tersebut diakibatkan oleh munculnya komunitas virtual yang dapat berdampak pada meningkatnya transaksi ekonomi dalam dunia cyber. Hal ini telah diungkapkan oleh Bosah Ebo bahwa “experts predict that the internet and Web will make electronic commerce the dominant mode of economic mediation as the number of virtual communities grows” (1998, p.1). Pendapat tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa hadirnya internet dan dunia cyber akan membawa dunia yang baru yang bersifat egaliter. Namun, pendapat ini ditentang oleh beberapa ahli yang salah satunya adalah Gumpert dan Drucker, mereka mengetakan bahwa internet dan dunia cyber yang menjadi fundamental dalam formasi ekonomi dan sosial akan menjadi mediator yang dominin terhadap lahirnya isu kesenjangan ras, kelas, dan gender (Ebo, 1998, p.2).

Perbedaan perspektif diatas merupakan terkait dengan dampak yang diberikan oleh teknologi, internet, dan dunia cyber terhadap masyarakat. Para pendukung percaya bahwa teknologi akan membawa dunia yang baru dimana didalamnya tidak akan terjadi kesenjangan seperti pada dunia nyata atau hal ini disebut juga dengan Cybertopia. Sedangkan para pengkritik menolak persektif tersebut dengan mengatakan bahwa dunia cyber merupakan perpanjangan dunia nyata yang didalamnya juga akan terjadi kesenjangan dalam isu-isu ras, kelas sosial, dan gender, perspektif ini disebut juga dengan Cyberghetto. Kedua perspektif tersebut akan dibahas dalam subbab selanjutnya.

Perspektif Cybertopia

Perspektif ini menganggap bahwa hadirnya teknologi, internet, dan dunia cyber membawa manfaat yang baik untuk masyarakat. Ia melihat bahwa internet merupakan teknologi yang dapat menjadi medium terhadap kesetaraan karena lahirnya komunitas virtual pada dunia cyber. Internet juga semakin menjelaskan bahwa hirarkis dalam gender roles, kelas sosial, dan isu rasial sebagai fenomena tradisional yang hanya terjadi di dunia nyata. Turkle menambahkan bahwa internet memberikan ruang dan fasilitas kepada seluruh masyarakat untuk menciptakan forum, sehingga individu dapat dengan bebas berkomunikasi tanpa adanya harapan sosial dan sanksi berupa fisik (Ebo, 1998, p.3). Oleh karena itu komunitas virtual merupakan tempat yang memungkinkan seluruh masyarakat untuk berinteraksi dan menjalin hubungan tanpa disertai kesenjagan.

Misalnya dalam aspek gender, dalam dunia nyata terdapat traditional gender roles yang menciptakan hirarki antara laki-laki dan perempuan. Dalam dunia nyata, masyarakat patriarki memposisikan laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Hal tersebut dapat dilihat pada adanya dualisme atau oposisi biner dalam menjelaskan laki-laki dan perempuan, kuat/lemah, aktif/pasif, rasional/emosional, dan lainnya. Situasi tersebut oleh perspektif cybertopia dianggap tidak akan terjadi dalam dunia cyber. Hal tersebut diakibatkan oleh cyberstealth atau invisibilitas tubuh dalam dunia cyber. Seorang perempuan dapat berinteraksi dalam dunia cyber dengan melampau ideologi patriarkal akibat kemampuannya dalam tidak menampakkan fisiknya dan identitasnya. Dengan kata lain, fitur berupa kemampuan yang dapat tidak menampakkan wujud tubuh sekaligus identitas telah menjadi cara untuk menghidar dari ketidaksetaraan. Hal ini diutarakan oleh Ebo bahwa “cyberstealth also could create self liberating identities for groups that have been isolated or ostracized from mainstream discourse, such as fat, disabled, or gay constituencies” (1998, p.4). Kutipan diatas menjelaskan bahwa cyberstealth telah membebaskan individu dalam menentukan identitasnya.

Selain manfaat diatas, internet juga telah membawa manfaat berupa teknologi yang memungkinkan seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati pendidikan dan informasi tanpa perlu hadir dalam kelas-kelas konvensional. Hal ini dapat dilihat pada banyaknya platform dan website-website yang menyediakan layanan e learning yang dapat diakses oleh semua orang. Selain manfaat itu, perspektif cybertopia menganggap bahwa internet telah memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi tanpa adanya mediasi. Situasi tersebut menunjukkan bahwa teknologi, internet telah memberikan banyak manfaat dan mampu memberikan alternatif terhadap kesenjangan yang ada pada dunia nyata dengan adanya dunia cyber.

 

Perspektif Cyberghetto

Perspektif ini merupakan kebalikan daripada perpektif cybertopia. Cyberghetto berpendapat bahwa internet, komunitas virtual sesungguhnya tempat terjadinya bias terhadap isu rasial, kelas sosial, dan gender. Hal ini diungkapkan oleh Bosah Ebo bahwa “virtual communities fulfill the same traditional essence of associations and bonding, and invariably promote social relationships that are orchestrated by inherent inegalitarian tendencies in society” (1998, p.6). Dengan kata lain bahwa dunia cyber sesungguhnya merupakan dunia yang tidak lepas dari isu-isu ketidaksetaraan yang terjadi dalam dunia nyata.

Civille dalam Ebo menjelaskan bahwa “As long as communities on the Internet allow participants to engage freely in the creation of social realities, economic and social classifications rooted in race, class, and gender statifications will invariably influence relationships in virtual communities” (1998, p.6). Kutian tersebut menjelaskan bahwa peran individu dalam dunia cyber akan mempengaruhi terciptanya isu-isu kesenjangan dalam dunia cyber, karena individu tersebut tidak dapat melepaskan identitas dalam dunia nyatanya walaupun sedang berada dalam dunia cyber.

Salah satu contoh bahwa dunia cyber tidak lepas dari isu gender, ras, dan kelas sosial adalah dalam penggunaan hosting dan domain. Menulis atau memasukkan konten ke dalam website tidaklah gratis, terlebih website yang telah memiliki banyak pengunjung perharinya. Seseorang yang ingin mempunyai halaman pribadi dalam website harus terlebih dahulu membeli hosting dan domain, dan jumlah kuota pada website tentunya juga sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa dunia cyber tidak sepenuhnya dapat diakses oleh seluruh orang secara gratis, karena terdapat transaksi ekonomi didalamnya untuk siapa saja yang hendak memiliki hosting dan domain pribadi.

Contoh lain dari perspektif cyberghetto adalah dalam isu gender. Oleh cybertopia, isu gender dianggap tidak bisa hadir dalam dunia cyber. Sedangkan menurut perspektif cyberghetto, isu gender sangat mudah ditemui dalam dunia cyber. Misalnya pada pembedaan game antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki cenderung memainkan game yang identik dengan andrenalin seperti pertarungan dan balapan, sedangkan perempuan cenderung dikonstruksi untuk bermain game yang berhubungan dengan kegiatan domestik seperti berdandan, memasak, mendekorasi rumah, dan lainnya. Situasi tersebut sesuai dengan penjelasan Miller dan McGaw dalam Ebo bahwa internet tidak akan merubah gender bias yang terjadi dalam dunia nyata, karena penciptaan teknolog itu sendiri menggunakan male centered thinking (1998, p.7). Dalam hal ini jika dikaitkan dengan contoh diatas, maka pencipta game telah memiliki konstruksi gender yang secara sengaja maupun tidak sengaja akan tertuang ke dalam teknologi yang ia ciptakan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa internet merupakan media yang dapat melanggengkan isu kesenjangan ras, gender, dan kelas sosial.

KESIMPULAN

Memang perspektif cybertopia dan cyberghetto terlihat sebagai dikotomi yang saling berlawanan. Namun, sesungguhnya kedua perspektif tersebut muncul akibat suatu situasi sosial yang diakibatkan oleh adanya akses internet.

Referensi

Ebo, B., 1998. Cyberghetto or Cybertopia? Race, Class, and Gender on the Internet. Westport: Praeger Publisher.