Strasbourg_Goltzius_Eve_1613

Ecofeminism merupakan studi yang menggabungkan Ecocriticism dan Feminism. Selama ini perempuan sering dikaitakan dengan alam. Apakah mereka memang memiliki keterkaitan atau hanya konstruksi sosial?

Isu-isu terkait Ecofeminism telah muncul sejak  1970, namun istilah ini ditemukan oleh Francoise d’Eaubonne pada tahun 1974. Istilah tersebut dibentuk untuk menarik perhatian wanita dalam aksi untuk melindungi alam. Dalam hal tersebut, wanita dipilih karena dianggap memiliki hubungan dengan alam. Menurut Val Plumwood dalam bukunya Feminism and the Mastery of Nature, “Ecological Feminism or ecofeminism is essentially response toa set of key problems thrown up by the two great social currents of the later part of this century-feminism and the environmental movement and addresses a number of shared problems” (10). Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa Ecofeminism berbicara mengenai hubungan antara masalah-masalah yang dihadapi oleh alam dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh perempuan.

Ecofeminism memiliki dua cabang, yaitu Cultural Ecofeminism  dan Social Ecofeminism. Cultural atau Esensial Ecofeminism berpendapat bahwa hubungan antara alam dengan perempuan merupakan berasal dari aspek biologis yang dimiliki oleh perempuan, misalnya kemampuannya dalam melahirkan bayi dan juga menyusui. Hal ini didukung oleh Plumwood bahwa “women’s emphaty, nurturance, coorperativeness, and connectedness to nature are grounded in women’s reproductive capacity” (9). Dapat disimpulkan bahwa dalam cabang Ecofeminism satu ini menyatakan bahwa perempuan memiliki koneksi khusus dengan alam yang tidak dimiliki oleh pria. Oleh karena itu, Cultural Ecofeminism percaya bahwa hanya perempuan saja yang dapat menyeimbangkan alam dengan menggunakan perumpamaan ‘angle in the ecosystem’.

Cabang yang kedua oleh Ecofeminism adalah Social Ecofeminism. Sosial Ecofeminism berpendapat bahwa hubungan antara wanita dan alam tidaklah esensial melainkan terkonstruksi. Penjelasan yang esensial dalam menjelaskan hubungan wanita dengan alam dianggap sebagai sebuah bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Hal ini dijelaskan bahwa “closeness to nature has hardly been a compliment” (Plumwood 25). Bisa dikatakan demikian karena kemiripan dan hubungan antara wanita dan alam mengisyarakatkan sebuah inferiorisasi terhadap perempuan yang berarti pasif, emotional, dan lainnya. Hubungan antara alam dan wanita sesungguhnya hanyalah konstruksi sosial. Posisi wanita yang mewajibkan mereka berada didalam rumah melayani keluarganya membuat mereka menjadi dekat dengan alam. Misalnya dengan tugas mereka memasak, menyediakan minuman, obat-obatan, dan hal-hal lainnya menimbulkan rasa peduli yang lebih mengingat alam merupakan sumber wanita memberikan penghidupan kepada keluarganya. Sosial Ecofeminism juga menemukakan bahwa tidak hanya perempuan yang dapat memiliki hubungan dengan alam. Laki-laki pun juga dapat memiliki rasa peduli sama dengan perempuan terhadap alam.

Jadi, dalam Ecofeminism terdapat dua paham yang saling berlawanan: 1. Cultural Ecofeminism 2. Social Ecofeminism

Plumwood, Val. Feminism and the Mastery of Nature. Canada: Routledge, 2003.